
Pembebasan biaya sekolah adalah salah satu kebijakan yang paling banyak disebut sebagai bentuk pemerataan pendidikan. slot gacor Uang sekolah bulanan memang hilang dari daftar tagihan sebagian besar keluarga. Namun bagi keluarga dengan penghasilan harian, biaya sekolah tidak pernah berupa satu angka saja, dan yang tidak terhapus justru sering lebih menentukan apakah anak bisa terus bersekolah.
Pengeluaran yang Tidak Masuk Hitungan
Daftar pengeluaran yang tetap ada cukup panjang dan sebagian besarnya tidak bisa ditawar.
Seragam biasanya lebih dari satu setel karena ada seragam harian, seragam olahraga, seragam khusus hari tertentu, dan atribut seperti dasi dan topi. Sepatu punya ketentuan warna sehingga sepatu yang sudah ada di rumah sering tidak bisa dipakai. Tas dan alat tulis dibeli setiap tahun karena rusak atau hilang.
Di luar itu ada buku pendamping, lembar kerja, biaya foto, biaya perpisahan, sumbangan kegiatan, iuran kelas, dan uang saku harian. Uang saku sering dianggap remeh padahal jumlahnya paling besar kalau dihitung setahun, dan bagi anak yang tidak membawa bekal, tidak memegang uang berarti tidak makan selama enam jam.
Kalau sekolah berjarak jauh, ongkos angkutan menjadi pos yang berulang setiap hari dan tidak punya kelonggaran.
Kenapa Angka Kecil Bisa Menentukan
Bagi keluarga dengan penghasilan tetap, pengeluaran seperti ini terasa merepotkan tapi bisa direncanakan. Bagi keluarga dengan penghasilan harian yang naik turun, persoalannya bukan jumlah totalnya, melainkan waktu munculnya.
Pengeluaran sekolah sering datang menumpuk di awal tahun ajaran, bersamaan dengan kebutuhan lain, dan tidak bisa ditunda karena berkaitan dengan syarat masuk kelas. Keluarga yang tidak punya tabungan akan berutang, dan utang itu terbawa ke bulan berikutnya.
Ketika ada beberapa anak dalam satu keluarga, tekanan itu berlipat dan biasanya diselesaikan dengan cara yang sama di banyak tempat, yaitu memilih anak mana yang diteruskan sekolahnya.
Bentuk Pengeluaran yang Bersumber dari Kebiasaan Sekolah
Sebagian pengeluaran sebenarnya bukan keharusan melainkan kebiasaan yang tidak pernah ditinjau ulang.
Pergantian model seragam, misalnya, membuat seragam bekas kakak kelas tidak bisa dipakai. Buku pendamping yang berganti edisi setiap tahun dengan perubahan isi yang tipis membuat buku bekas kehilangan nilainya. Kegiatan berbayar yang dijadwalkan tanpa pemberitahuan jauh hari membuat keluarga tidak sempat menyiapkan dana.
Hal-hal semacam ini jarang dibahas sebagai kebijakan biaya karena tidak berbentuk tagihan resmi, padahal dampaknya pada keluarga berpenghasilan rendah cukup langsung.
Cara Anak Menanggung Bagiannya
Yang paling jarang dibicarakan adalah bagaimana anak sendiri menangani situasi ini. Anak yang tidak mampu membayar iuran sering memilih tidak masuk pada hari penagihan. Anak yang seragamnya sudah pendek atau sepatunya sudah rusak sering mengurangi kegiatan yang membuatnya terlihat.
Pola ini menghasilkan ketidakhadiran yang tercatat sebagai masalah kedisiplinan, padahal akarnya berada di tempat lain. Karena penyebabnya tidak terlihat, penanganannya pun sering berupa teguran, yang justru menambah alasan untuk tidak datang.
Penutup
Menyebut sekolah sudah gratis dan menganggap persoalan biaya selesai adalah kesimpulan yang hanya berlaku bagi keluarga yang pengeluaran sisanya terasa ringan. Bagi kelompok yang paling ingin dijangkau kebijakan itu, biaya yang tersisa justru merupakan bagian yang paling sulit ditanggung karena datang berulang, tidak bisa ditunda, dan tidak punya keringanan. Selama daftar pengeluaran itu tidak ikut diperiksa, angka partisipasi bisa terlihat baik sementara sebagian anak berhenti bukan karena tidak diterima, melainkan karena tidak sanggup bertahan di dalamnya.